Tuesday, April 14, 2020

KIAT MENULIS DI MAJALAH SUARA GURU PB PGRI


KIAT MENULIS DI MAJALAH SUARA GURU PB PGRI

Pertemuan ke 26
Selasa, 14 April 2020

Setiap orang pasti medapatkan pengalaman baru setiap harinya sendiri.
Ungkapkan semua dari pengalaman tersebut menjadi sebuah tulisan yang berharga.
Dan simpanlah tulisan tersebut.
Maka dirimu akan di kenang sepanjang masa.  



Didalam dunia menulis sudah tidak asing lagi. Tulisan nya sudah menyebar di seluruh nusantara. Penampilannya juga bersahaja, menandakan orangnya yang fullcalm. Ibarat padi yang berisi selalu merunduk ke bawah. Beliau dikenal sangat piawai untuk menata mengkombinasikan kata menjadi sebuah kalimat dan sebuah bacaan yang bermanfaat. Namanya tak asing lagi bagi anggota PGRI yang didaerah, beliau bernama Bapak Dr. Jejen Musfah, M.A. yang dikenal pula sebagai Pimpinan redaksi Majalah Suara Guru PB PGRI.  Dimana majalahnya terdistribusi ke seluruh Indonesia.

Beliau menjelaskan terkait dengan berita yang diterbitkan oleh Majalah. Suara Guru PB PGRI, yang alamat emailnya adalah Majalah.suaraguru@gmail.com . Didalam majalah tersebut juga berupa opini, resensi, sastra , destinasi dan lain sebagainya.   Intinya gagasan penulis atas kebijakan atau fakta pendidikan yang terjadi. Bila berita berupa opini tidak akan kehilangan topik kebijakan dan fakta pendidikan selalu hadir , Dan diharapkan dari penulisan tersebut semua berhasil menangkap  momentum untuk menanggapinya.

 Sejarah diadakannya Majalah Suara Guru di PB PGRI adalah, bahwa suara guru akan menjembatani, dan mensiarkan tentang perhimpunan,  perjuangan , pergerakan, dan kuatnya PGRI dalam menjalin mitra dengan semua anggotanya. Termasuk pergerakan dan perjuangan PGRI untuk menghidupi dan menaungi semua anggota PGRI seluruh Indonesia di bawah pengawasan Pemerintah. Perjuangan PGRI dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah dan kalangan swasta. Dibuktikan dengan diterbitkannya UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen .


Adapun  yang dimaksud guru disini  adalah Guru berperan sebagai praktisi, pendidik profesional dengan tugas utama sebagai pendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi. Sehingga  guru memerlukan wadah untuk bisa berkarya dan berkreasi dengan perasaan yang tenang tanpa ada perasaan was-was.  

 Majalah Suara Guru lahir, bersamaan dengan lahirnya PGRI. Jadi umurnya sudah setua PGRI itu sendiri. Sudah berdiri puluhan tahun. Dan artikel – artikelnya dimuat di media Online dan Offline. Setiap penerbitan akan mencetak sebanyak  5000 eksemplar. Dimana majalah tersebut akan didistribusikan ke hampir 34 provinsi di seluruh Indonesia.  Rubriknya beragam, ada opini, resensi, sastra, destinasi dan lain sebagainya.

Syarat untuk mengirimkan artikel ke redaksi Majalah Suara Guru di PB PGRI diantaranya adalah , menyebutkan status foto, tulisannya bisa sesuai rubrik diatas, dan diutamakan bidang pendidikan dan isu-isu yang hangat. Tuisan berbentuk word, tidak bertentangan dengan sara.

Sampai saat ini, sebenarnya redaksi masih kekurangan naskah yang berkwalitas. Semua cenderung diterima dengan editing redaktur. Dikarenakan minimnya naskah yang masuk kepada redaksi.  Pertanyaan dari Bapak Wijaya Kusuma menggelitik untuk meminta jawaban, karena pertanyaannya sangat unik dan menarik. Pertanyaannya adalah “Apakah menulis dan mengirimkan tulisan di majalah suara guru PB PGRI ada honornya. Jawabah beliau, Tidak ada. Sempat tahun kemarin ada honornya.  Tetapi tahun selanjutnya tidak ada honornya. Jika keuangan memadai kedepan akan dibayarkan honornya. Dan untuk pengiriman juga tidak ada biayanya.

Untuk opini batasan dalam berpendapat adalah tidak mengandung sara ( Suku agama, ras, antar golongan) dan bila berbentuk karya sastra bisa berupa karya sastra atau teori dari karya sastra. Naskah yang akan dikirim untuk opini maksimal 1000 kata, dan tata cara atau aturan penulisannya (ukuran dan jenis huruf, pengaturan halaman) bebas.


Artikel yang sudah dimuat baik secara online di website PGRI dan majalah PGRI  tidak boleh dikirimkan ke media cetak yang lain.  Didalam penulisannya diutamakan berisi tentang pendidikan, baik kemajuan pendidikan di Indonesia, perkembangannya, perjalananya dan hasil input dan outputnya di dalam pembelajaran.

Setelah naskah dikirim, prosedur untuk diterbitkan adalah menunggu team redaksi untuk mengkoreksinya. Untuk mengetahui sudah diterbitkan atau belum silakan untuk mengunjungui web majalah suara guru PB PGRI.  Bila penerbitan secara online  itu bisa dilihat dalam hitungan  jam terbit. Kalau untuk penerbitan majalah suara guru PB PGRI, itu diterbitkan setiap 2 bulan sekali.

Dan setiap artikel atau opini pendidikan yang dikirimkan kepada redaksi akan di seleksi dulu oleh team redaktur, selanjutnya bisa diterbitkan. Majalah suara guru ini disini berfungsi sebagai menyebarkan pemberitaan terkait kebijakan nasional dan berita terkait dengan PGRI secara nasional. Maka dari itu penting anggota PGRI mengirimkan kegiatan atau info ke Majalah Suara Guru, supaya kegiatan kita diketahui oleh semua anggota  PGRI di seluruh Indonesia. Yang penting kita berbuat, kita bertindak dan kita menyuarakan dan kita kirimkan ke Majalah Suara Guru.

Semua penulisan bisa dikirim ke redaksi Suara Guru, selanjutnya nanti akan di edit oleh redaktur Majalah Suara Guru. Untuk memperoleh perbendaharaan kata dan kalimat , seorang penulis di harapkan dapat membaca di surat kabar nasional. Dimana isi dari penulisan di Majalah Suara Guru , intinya gagasan orisinil, bukan plagiat atau mencontoh tulisan orang lain. Dimana Majalah Suara Guru, selama ini cenderung kekurangan naskah.

Didalam penulisan artikel yang baik , disarankan sering menulis dan sering membaca opini-opini di koran nasional atau detik.com.  untuk menulis jangan takut buruk. Yang penting penulis berusaha untuk menuliskan  ide-idenya kedalam bentuk tulisan. Penulis yang baik berarti juga sebagai pembaca yang baik. 

Untuk penulisan-penulisan itu ada kriterianya. Contohnya, bila menginginkan sebuah artikel pemberitaan atau opini , bisa masuk ke Majalah Suara Guru.  Dan bila penelitian pendidikan itu bisa masuk ke Jurnal PGRI. Untuk semua naskah yang dikirimkan ke redaksi akan di edit dan diatur oleh redaktur majalah Suara Guru, termasuk memasukkan ke dalam link http://suaraguruonline.com . untuk penulis mengirimkan naskahnya ke Majalah Suara Guru PB PGRI , melalui majalah.suaraguru@gmail.com .

Suka duka beliau dalam mengelola dan memimpin Majalah Suara Guru PB PGRI, adalah banyak yang terungkap dalam kesedihan dan kebahagiaan tersendiri.  Dimana kesedihan tersebut muncul  bilamana beliau tidak mampu membayar penulis. Tetapi banyak kebahagiannya yang diterima. Bisa mengenal semua anggota PGRI seluruh Indonesia, melalui Majalahnya. Dan yang paling teristimewa adalah kebersamaan dalam kesederhanaan atau kekurangan di dalam pergaulan dan perjuangan bersama.

Untuk naskah yang dimuat, akan mendapatkan surat bukti dari suara guru, karena surat bukti terebut akan dipergunakan sebagai lampiran artikel yang dimuat dan di butuhkan untuk angka  kreditnya.

Tak lupa pula beliau memompakan semangat dan motivasi untuk selalu menulis dan berkarya. Dan mengajak semua elemen guru,  untuk menulis di berbagai hal tentang kesuksesan dan keberhasilan kita di majalah suara guru PB PGRI. Tetap semangat... tetap  berjuang  dan tetap berkarya.
Hidup Guru...
Hidup PGRI....
Solidaritas .... Yess....



v  Berfikir positiflah terhadap diri sendiri, ketika kita yakin bahwa hidup kita menyenangkan, alam akan membantu  dan mewujudkan apa yang kita pikirkan. Hal yang sangat penting dalam hidup kita adalah menginginkan hidup yang bahagia. Hidup yang membahagiakan tidak berasal dari orang lain tetapi dari diri kita sendiri.



#Keep Spirit# keep sharing#and keep loving
#part.26
#sitifatonah


Monday, April 6, 2020

PEMBELAJARAN EFEKTIF DI ERA COVID’19


PEMBELAJARAN EFEKTIF DI ERA COVID’19   

Narasumber : Drs. INDRA CHARISMIADJI, M.Pd.
Pengamat Pendidikan (live Streaming di JakTV)
Sabtu, 30 Maret 2020


Oleh :
SITI FATONAH, S.Pd., M.Psi.


Seringkali saat mengalami masalah, kita merasa putus asa.
Ternyata dibalik semua itu , masalah tersebut membawa diri kita menuju kepada kematangan hidup dan memberikan kekuatan pada diri kita.
Maka tegarlah saat dihadapkan dengan berbagai masalah.
Karena hal tersebut yang akan menjadikan kita
pribadi yang kuat dan tangguh.

Pandemik Virus Corona yang mewabah di seluruh dunia, membuat suatu perubahan besar pada kehidupan umat manusia. Semua pada menjaga diri untuk tidak terkena virus corona. .  Semua negara mengantisipasinya dan melakukan pencegahan melalui sosial distancing. Dan selama ini masih belum ada perubahan yang membaik, tetapi korban menjadi semakin banyak, maka pemerintah melakukan peningkatan status menjadi physical distancing. Hal ini juga merubah pola kehidupan dan pola kebiasaan semua warga dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Banyak wilayah melaksanakan karantina wilayah untuk mencegah menyebarnya covid’19. Dan ini merupakan kebiasaan yang diluar kebiasaan.

Perubahan itu juga terjadi pada dunia pendidikan. Untuk mengantisipasi supaya siswa-siswa tidak terkena covid’19, pemerintah menginstruksikan bahwa semua siswa , baik dari Playgroup, SD, SMP, SMA dan PT harus belajar di rumah.   Karena belajar dirumah, maka Bapak ibu gurupun diminta untuk aktif memberikan pembelajaran lewat daring atau pembelajaran jarak jauh.

Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo, saat konferensi pres, televisi JakTV, tertanggal 30 Maret 2020, pukul19.00, diacara Generasi Mecin,  menyampaikan bahwa “Covid’19 sangat mengganggu di dunia pendidikan di tanah air bahwa pemerintah telah melakukan kebijakan belajar dari rumah untuk mencegah penyebaran Covid’19.  Situasi ini membawa dampak pada rencana Ujian Nasional di tahun 2020. Ada 8,3 juta siswa yang harusnya, mengikuti Ujian Nasional, dari 106.000 satuan pendidikan di seluruh tanah air.

Dengan kejadian Covid’19, sebenarnya banyak pertanyaan yang mengarah keefektifan pembelajaran di dalam pola pendidikan Indonesia. Sebenarnya tidak mendadak, karena, Indonesia masuk ke dunia digital itu sudah 20 tahun yang lalu.  Artinya bukan suatu hal yang baru,  hanya memang dunia pendidikan di Indonesia terlambat untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Bila membicarakan keefektifan,  memang tergantung individu masing-masing. Tetapi di era kerja atau era belajar sekarang memang harus memanfaatkan teknologi digital. Belajar dan bekerja tidak harus bertatap muka , dan tidak harus ketemu langsung tapi yang penting adalah tujuan belajarnya.

Menurut UNESCO, Learning how to learn ada empat pilar. Yang pertama Learning to know ( Belajar untuk tahu), Learning to do( Belajar untuk melakukan ),  Learning to be( Belajar untuk menjadi sesuatu ) dan Learning to live together (Belajar untuk hidup bersama ).  Semua itu adalah pilar dari dunia pendidikan.  Fokusnya adalah ke What to learn (apa yang dipelajari) , bukan ke How to learn  itulah esensi dari dunia pendidikan.  


Sebenarnya Ujian Nasional akan dihapus mulai tahun depan, itu sesuai dengan Permendikbud Nomer 43 tahun 2019. Tetapi karena adanya Covid’19,  maka  setahun lebih cepat penghapusan Ujian Nasional. Dan penghapusan inipun berpengaruh kepada kebijakan pada proses seleksi siswa masuk ke perguruan tinggi. Tujuan dari UN adalah sebagai pemetaan,   sampai sejauh mana mutu pendidikan di masing-masing sekolah. Problem UN yang ada sekarang masih mengukur apa yang dipelajari. Yaitu What to learn (Apa yang dipelajari), bukannya How to learn. Sebetulnya substansi UN di era sekarang ini tidak ada. Karena menurut beliau,  anak itu dididik  keahliannya adalah untuk  keahlian mengerjakan tes, bukan keahlian ilmunya dan bukan cara belajarnya. Dan beliau mengatakan bahwa beliau  sering menyebutnya sebagai  ilusi pembelajaran, bukan pembelajaran yang sesungguhnya.
Seharusnya sisi positif kondisi musibah ini,  bisa me reset sistem  pendidikan kita yang selama ini sudah kesasar akan kembali lagi ke arah yang sesungguhnya. Dari situasi ini, karena belajar dirumah, ada beberapa curhatan dari siswa dan mahasiswa , dan juga dari guru dan dosen ,  bahwa terlalu banyak tugas  yang diberikan. Kalau dulu biasanya kuliah 3 SKS yang paling lama 2 jam di kelas sekarang,  1jam kuliah bisa sampai seharian. Karena mengerjakan tugasnya.

Diera sekarang bukan how to learn lagi tapi dibutuhkan ketrampilan  bagaimana mereka bisa memecahkan masalah problem solving,  bagaimana mereka bisa berpikir kritis, bagaimana mereka bisa berkolaborasi, mereka bisa berkomunikasi dengan baik, mereka bisa kreatif, mereka bisa melakukan inovasi yang dibutuhkan. Jadi belajar “apanya” sekarang sudah tidak penting karena mau belajar apapun tinggal ketik di Google,  ada semua.  Tapi harus bisa  membedakan mana informasi yang benar mana yang salah.  mana yang hoack, mana yang ada tujuan ilmiah atau opini yang mempunyai maksud tertentu.  Mereka Harus bisa melakukan filterisasi yang menghasilkan prestasi   dan itulah tugas dan bantuan sebagai seorang pendidik.

Yang diinginkan adalah pembelajaran yang efektif,  yang memudahkan siswa dalam mengikuti pembelajaran dirumah. Contohnya projek  best learning dalam mengatasi wabah Covid’19, kita melihat imbasnya terhadap dunia begitu besar dan ini tidak hanya pada sisi kesehatan, dari sisi ekonomi ,  sisi sosial, sisi pendidikanpun juga berdampak. Yang baku, mampu atau tidak siswa tersebut memecahkan masalahnya dan mengambil solusi   untuk menghadapi problem-problem tersebut , yang diambil dari pemikiran dia sendiri. Tetapi harus didukung dari sumber-sumber yang sudah diuji kredibilitasnya.
Mampu tidak siswa mencari teori dari sumber yang bisa dipertanggung jawabkan. Karena terkadang banyak siswa mengambil referensi atau  teori-teori dari wikipedia yang bukan referensi academy.  Yang diambil dari blog orang yang gak jelas.  Padahal seharusnya Mereka sudah terbiasa menampilkan referensi dari dokumen yang mereka tampilkn dari sebuah problem solving . Atau solusi yang mereka tawarkan dalam kasus yang sekarang kita hadapi. Dan bentuk solusinya itu bermacam-macam. Tidak harus diajari. Solusinya itu dalam bentuk  tulisan. Tulisannya bisa bentuk blog, multimedia,  animasi, film, aplikasi dan sebagainya.  Itu semua bisa dipakai.

 Bagaimanakah belajar online efektif yang memudahkan untuk para pengajar, murid dan mahasiswa.karena mungkin melihat situasi dan kondisi saat ini masih belum bisa masuk ke sekolah maupun ke kampusnya masing-masing. Melihat perkembangan kasus covid’19 , contohnya,  Universitas Indonesia, melaksanakan pembelajaran online nanti sampai akhir semester.

Menurut beliau untuk belajar online cara belajar efektif, ada jutaan referensi yang bisa kita cari. Tetapi tergantung dari masing-masing individualnya,   bagaimana cara mereka melakukan pembelajarannya. Karena setiap orang belajar model belajarnya juga berbeda-beda. Ada yang cenderung ke audio, visual, dan kinestetik.  Intinya pendidikan itu harus belajar, dengan bagaimana caranya belajar.


Dan model-model pendidikan yang terbaru itu,  sekarang untuk mendapatkan  ijazah SMA , itu bisa ditempuh berbarengan. Misalnya sekolah  dari Amerika , maka bisa juga ditempuh dengan yang di Indonesia. Sehingga ketika lulus nantinya akan mendapatkan 2 ijasah, dan dilakukan  secara online. Termasuk di Perguruan Tinggi jenjang  S1 , S2 dan S3 sekarang juga bisa dilaksanakan secara online. Tidak harus tatap muka,  tapi isi dari pembelajaran nya bukan hanya tentang konten, bukan hanya melihat video atau animasi  saja. Tapi justru bagaimana karya yang dihasilkan itu bisa bermakna. Jadi ujungnya adalah karya. Kalau mau pembelajaran yang efektif, kalau sudah menghasilkan karya, itu dikategorikan efektif daripada hanya belajar teori.

Satu hal yang penting buat para orang tua,  ini  suatu momen yang tepat untuk me reset lagi pola pendidikan kita.  salah satu hal yang membuat kualitas pendidikan kita atau menjadi wisata terindah di dunia, karena kebanyakan orang tua Indonesia itu mindsetnya dalam mendidik anak itu outsourcing. Memberikan dan meng outsourc ke tempat lain, entah itu sekolah, entah itu bimbel, guru les dan lain sebagainya.

Padahal kalau kita bandingkan dengan salah satu negara yang disebut mutu pendidikannya  terbaik, contohnya di Finlandia. Kuncinya justru di pendidikan dari orang tua. Kenapa di Finlandia, tidak pernah dikasih PR, tidak butuh PR,  karena mereka dari anak-anak sudah dibiasakan untuk membaca.  Sedangkan di Indonesia, anak-anaknya di negara yang sangat tidak suka membaca.

Bagaimana menyikapi pendidikan di masa seperti ini, adalah satu hal yang bisa dilakukan oleh para orang tua, masyarakat, anak-anak di masa harus belajar dalam jaringan.   Satu hal di dunia pendidikan kita yang sangat lemah, yaitu kemampuan membaca.  Berdasarkan survei kita menempati posisi nomor dua dari bawah nomor 60 dan 61 negara dari kemampuan berliterasi .Kenapa karena tadi anak-anak kita dan  masyarakat kita tidak suka membaca. Dan satu hal yang bisa dilakukan di saat seperti sekarang harus belajar di rumah,dan  kerja dari rumah. Ini setiap warga bisa mengambil satu Jam saja dari 24 jam tiap hari untuk sama-sama membaca.

Jadi mengambil waktu yang tenang,  untuk membaca buku.  Yang dibaca bukan baca WhatsApp, tetapi baca buku. Sebenarnya banyak buku online juga ada, jutaan ebook yang gratis di internet bisa diambil untuk membiasakan dan meningkatkan kemampuan literasi kita.   Dan sebenarnya inilah bedanya Indonesia dengan Finlandia.  Finlandia menjadi salah satu negara dengan kualitas pendidikan yang sangat baik, selalu terbaik di dunia.  Karena mereka punya budaya membaca dan budaya membaca itu dimulai dari keluarga.  

Makanya anak di Finlandia tidak perlu dikasih PR, karena mereka pulang sekolah pun akan selalu baca,  dan berbicara dengan orang tuanya.  Jadi membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka,  sedangkan kita harus dipaksa dulu baru mau belajar. Harus dipaksa dulu, bila ada tes,  baru mau belajar.

Jadi sisi positif dari wabah ini, kita bisa me reset ulang. Supaya pendidikan kita bisa lebih baik dan pendidikan itu yang utama mulai dari keluarga. Kalau di masyarakat kebanyakan mindsetnya dalam pendidikan itu orangtua outsourcing. Artinya orang tua membaik dan pendidikan itu yang utama butuh guru les. Padahal pendidikan yang baik sebetulnya boleh dari keluarga itu sendiri. Dan mungkin waktu yang sekarang bisa kita mulai lagi.

 Kita berharap semoga masalah yang terjadi bukan cuma di Indonesia, tetapi juga di dunia ini segera berakhir. Jika satu hal buruk menimpa, jadikanlah itu suatu pelajaran. Anggaplah semua musibah yang  terjadi, dalam hidup kita, itu merupakan ujian dari Alloh SWT. Janganlah menjadikan masalah kecil untuk menyalahkan kehidupan kita, karena Alloh SWT, tidak pernah memberikan kehidupan yang buruk ke pada umatnya.


v Mulailah dengan pikiran yang positif dan hati yang bersyukur, karena semua akan tersa lebih ringan dan memudahkan. Saat banyak rintangan yang menghadang, hatipun tetap merasakan kehangatan dan kebahagiaan.




# Live streaming JAKTV#Generasi Micin#
# Keep Spirit, keep sharing and keep loving
#part.16
#sitifatonah